Aku Tidak Memilih untuk Menjadi Gay

CERITA SEX GAY,,,,,,,
Aku Tidak Memilih untuk Menjadi Gay
Aku tidak pernah memilih untuk tertarik kepada sesama jenis.

Aku mempunyai masa kecil yang biasa-biasa saja di sebuah rumah yang juga biasa. Ayah, ibu, dan nenekku mengasihiku dan melakukan yang terbaik yang dapat mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhanku dan memperhatikanku.

Aku memiliki seorang adik laki-laki, tapi sejak kecil aku selalu menginginkan kehadiran seorang kakak laki-laki. Saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar, aku menjadikan seorang anak laki-laki yang lebih tua daripadaku di kelasku sebagai figur seorang kakak bagiku.

Aku pertama kali menyadari bahwa aku mempunyai perasaan-perasaan ini ketika aku mulai memasuki masa puber ketika aku SMP. Aku merasa tertarik dengan seorang laki-laki di kelasku. Saat mulai kuliah, aku juga terkagum-kagum dengan seorang teman laki-laki di kampusku. Itulah saat di mana aku mengindentifikasikan diriku sebagai seorang “gay”.

Tidak ada seorang pun yang dapat aku ceritakan tentang bagian dari hidupku ini—tidak dengan keluargaku atau juga dengan temanku. Jadi aku mencari di Internet tentang komunitas gay yang ada di sekitarku, dan aku menemukan beberapa. Aku ingat pertama kali aku chatting dengan seorang gay lainnya; aku begitu gugup sekaligus bergairah.

Awalnya, rasa ingin tahulah yang membawaku kepada komunitas-komunitas ini. Namun seiring berjalannya waktu, kesepianlah yang membuatku mencari orang-orang lain yang seperti diriku. Ketika rasa kesepianku bertambah, aku mulai menginginkan untuk menjalin hubungan yang romantis.

Aku tidak pernah pergi ke gereja sejak aku menjadi seorang Kristen saat aku SD. Aku juga tidak pernah diajarkan tentang kebenaran firman Tuhan tentang seksualitas. Karena itu, aku secara salah menyimpulkan bahwa Tuhan mengizinkanku mengejar hasratku untuk berhubungan dengan sesama jenis. Dan aku pun melakukannya, untuk 10 tahun berikutnya. Aku mencoba banyak cara untuk menjalin hubungan dengan sesama jenis dan, yang kusesalkan, aku juga jatuh ke dalam dosa seksual dengan banyak laki-laki berulang kali.

Beberapa tahun yang lalu, Tuhan meyakinkan hatiku bahwa itu bukanlah kehendak-Nya bagiku untuk mengejar hasratku terhadap sesama jenis. Sejak saat itu, Dia telah memimpinku melalui sebuah perjalanan pemulihan dan pengejaran akan kekudusan.

Meskipun aku tidak lagi mengidentifikasikan diriku sebagai seorang “gay”, aku masih merasa tertarik dengan laki-laki. Aku begitu sadar akan hal itu. Aku tahu bahwa aku tidak boleh melakukannya, dan aku memilih untuk mematuhi Tuhan. Namun rasa tertarik itu masih terasa “alami” bagiku.

Jika aku mempunyai pilihan, aku akan memilih untuk menghilangkan hasrat ini sama sekali. Itu akan membuat hidupku jauh lebih mudah. Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku akan mengalami pemulihan total di dunia ini, ataukah aku baru mendapatkan pemulihan total itu ketika aku telah mendapatkan tubuh yang baru, ketika aku bertemu dengan Tuhan nanti.

Meminjam kata-kata Wesley Hill, seorang penulis Kristen yang bergumul dengan ketertarikan terhadap sesama jenis yang telah memutuskan untuk tetap selibat (tidak menikah), aku kini hidup dalam fase “dibersihkan dan menanti”. Sebagai seorang Kristen, aku “dibersihkan, … dikuduskan [dan] dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita” (1 Korintus 6:11), tapi aku juga “menanti-nantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita” (Roma 8:23-25).

Sementara itu, aku tahu bahwa meskipun aku tidak dapat memilih seksualitasku, ada pilihan-pilihan yang dapat kupilih yang menyenangkan Tuhan. Aku percaya bahwa mengalami ketertarikan terhadap sesama jenis itu sendiri bukanlah sebuah dosa; tentunya Tuhan yang adil takkan memintaku untuk mempertanggungjawabkan sesuatu yang tidak dapat kupilih. Tapi bagaimana aku merespons terhadap perasaan itulah yang membuat perbedaan: itu bisa menjadi sebuah jalan yang membawaku kepada dosa, atau menjadi sebuah kesempatan untuk menyembah Tuhan dan mendapatkan pemulihan.

Aku berharap apa yang aku bagikan di sini juga dapat menolongmu untuk dapat memilih pilihan-pilihan yang benar bagi kemuliaan Tuhan dan bagi kebaikan dirimu ketika kamu menemukan dirimu diperhadapkan dalam situasi-situasi yang sulit.

Aku dapat memilih untuk percaya bahwa Tuhan peduli kepadaku

Pernah suatu kali aku marah kepada Tuhan karena mengizinkanku mengalami ketertarikan terhadap sesama jenis, tapi melarangku untuk mengejarnya. Itu terasa kejam, dan aku menyalahkan Dia karena menempatkanku dalam sebuah situasi yang aku rasa mustahil untuk dilalui.

Namun, seiring berjalannya tahun, ketika aku mulai mengerti siapa Allah sebenarnya—betapa Allah Bapa begitu baik dan begitu mengasihiku, betapa besar pengorbanan yang diberikan oleh Yesus, Sahabat dan Juruselamatku, dan betapa terpercayanya Roh Kudus, Penghibur dan Guruku—amarahku juga pelan-pelan tergantikan dengan rasa kagum, rasa syukur, dan rasa cinta yang semakin dalam kepada Tuhan.

Aku masih belum tahu secara pasti mengapa Tuhan mengizinkanku mengalami ketertarikan terhadap sesama jenis. Aku mungkin baru akan tahu ketika aku bertemu dengan-Nya muka dengan muka. Namun hingga hari itu tiba, aku memilih untuk memegang firman Tuhan yang mengatakan bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28). Aku tahu bahwa Dia peduli denganku dan Dia setia berjalan bersamaku untuk kebaikan diriku.

Setiap kali mata atau hatiku tertarik pada seorang laki-laki yang secara fisik menarik bagiku atau yang membangkitkan hasratku, aku harus mengingatkan diriku untuk menjauh dari hal-hal itu dan mendekat kepada Tuhan. Suatu waktu ketika aku merasa begitu berat untuk menjaga mataku dari hawa nafsu, aku bertanya kepada Tuhan mengapa aku harus bergumul dengan hal ini. Aku mendengar Dia berkata, “Matamu berkeliling karena hatimu tidak berlabuh pada-Ku.”

Benar saja, setiap kali aku secara sengaja menyisihkan lebih banyak waktu bersama Tuhan—untuk menyembah Dia dengan puji-pujian, untuk bertemu dengan-Nya di dalam firman Tuhan dan doa, dan bersekutu bersama orang-orang Kristen lainnya—aku jauh lebih mampu untuk menjauh dari hasratku kepada sesama jenis. Melalui hal ini, aku mengerti mengapa Alkitab memberitahu kita untuk “hidup oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging” (Galatia 5:16-17).

Aku mengingatkan diriku bahwa “barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu” (Galatia 6:8). Setiap kali aku bergumul, aku dapat memilih untuk berjalan bersama Roh, menabur untuk menyenangkan Dia, untuk menuai hidup yang kekal.

Aku juga telah belajar untuk secara sadar membawa rasa sakit dan kebutuhanku kepada Tuhan. Tuhan membuatku mengerti bahwa di balik ketertarikanku terhadap sesama jenis ada sebuah relasi yang rusak. Hal ini menyebabkanku mencari sosok, perhatian, dan kasih sayang seorang laki-laki yang tidak kudapatkan ketika aku dibesarkan. (Aku tahu orang lain mungkin memiliki kasus yang berbeda denganku.)

Jadi setiap kali aku terseret ke dalam ketertarikan dengan sesama jenis, aku memilih untuk membawa kerinduan hatiku ini kepada Tuhan, meminta-Nya untuk menolong dan menguatkanku, dan memberikan pemulihan bagi luka-lukaku. Aku mengingatkan diriku bahwa identitasku sebagai laki-laki ditentukan oleh standar Tuhan yang telah Dia berikan di dalam firman-Nya, yang tidak diajarkan oleh budaya kita. Dan aku meminta Dia untuk menunjukkanku bagaimana aku dapat mencari dan menerima perhatian dari para laki-laki dalam cara-cara yang sehat.

Dalam hal ini, ketertarikanku terhadap sesama jenis telah memberiku banyak kesempatan untuk lebih mengandalkan Tuhan. Aku memilih untuk mendekat kepada-Nya dan menerima cara-Nya untuk memulihkanku yang lebih baik daripada cara yang dapat kupikirkan.

Baru-baru ini, Tuhan menunjukkanku bagaimana aku dapat memilih untuk menggunakan pergumulanku dengan ketertarikan terhadap sesama jenis ini untuk tujuan Kerajaan Allah.

Tuhan telah mempertemukanku dengan beberapa orang Kristen yang juga mengalami pergumulan yang sama dan sedang mencari pertolongan. Aku begitu terbeban untuk menjangkau mereka, dan aku sadar bahwa pengalaman pribadiku inilah yang membuat mereka mau terbuka kepadaku.

Di satu sisi, pengalaman ketertarikanku terhadap sesama jenis telah menolongku untuk memahami mereka. Sebagai seseorang yang mengetahui sakitnya pergumulan ini, aku dapat memahami apa yang mereka rasakan. Empati itulah yang menghubungkan kami, dan memungkinkan diriku untuk berbagi dengan mereka tentang apa yang telah Tuhan ajarkan kepadaku di sepanjang perjalananku ini. Di sisi lain, aku harus dengan sadar memperhatikan batasan-batasan fisik dan emosi, agar kami tidak jatuh ke dalam dosa.

Aku pun belajar bagaimana menyeimbangkan kedua hal itu dengan bijak. Akhirnya, aku dapat menggunakan pergumulanku dengan ketertarikan terhadap sesama jenis ini untuk menolong orang lain dan mengarahkan mereka kepada Tuhan, untuk kemuliaan-Nya dan untuk kebaikan mereka.

Ada banyak orang dalam budaya kita sekarang yang berpikir bahwa aku tidak menjadi diriku sendiri. Mereka berpikir bahwa aku seharusnya bebas menjadi diriku sendiri. Mereka percaya bahwa kebebasan berarti memiliki kemampuan untuk mengekspresikan seksualitasku dengan melakukan sesuai dengan apa yang kurasakan.

Namun seorang teolog Amerika, Erik Thoennes, berkata, “Ada pemikiran yang mengatakan bahwa hidup berbeda dari apa yang aku rasakan adalah sebuah bentuk kemunafikan; tapi itu adalah definisi yang salah tentang kemunafikan. Hidup berbeda dari apa yang aku percayai, itu baru kemunafikan. Hidup sesuai dengan apa yang aku percayai, terlepas dari apa yang aku rasakan, bukanlah kemunafikan; itu adalah integritas.”

Tuhan telah mengajarkanku bahwa identitas diriku bukanlah apa yang kurasakan, tapi apa yang Dia katakan tentang diriku di dalam firman-Nya. Aku memilih untuk hidup dengan integritas dan berpegang kepada kebenaran itu, terlepas dari apa yang aku rasakan. Inilah bagaimana aku memilih untuk menjadi diriku sendiri. “Dalam tradisi Kristen,” kata penulis Richard John Neuhaus, “menjadi dirimu sendiri berarti menjadi diri yang sesuai dengan panggilan hidupmu.”

Tuhan mempunyai kuasa penuh terhadap hidupku. Dan aku dapat percaya kepada-Nya karena Dia, yang mengetahui yang terbaik untukku, mengasihiku dengan begitu dalam dan mampu membentukku untuk menjadi pribadi yang terbaik yang sesuai dengan panggilan-Nya bagiku.

Seringkali aku merasa tidak punya banyak hal yang dapat kuberikan kepada Tuhan. Aku berpikir betapa aku dapat lebih mudah untuk taat kepada-Nya dan lebih efektif untuk melayani sesama jika aku tidak bergumul dengan masalah ketertarikan dengan sesama jenis ini. Namun, kini aku percaya bahwa Tuhan sesungguhnya jauh lebih peduli dengan hatiku yang ingin memberi daripada seberapa banyak yang dapat kuberikan kepada-Nya.

Ada dua kisah di Alkitab yang begitu melekat bagiku. Yang pertama adalah kisah tentang persembahan seorang janda miskin (Markus 12:41-44; Lukas 21:1-4), dan yang lain adalah kisah ketika Yesus diurapi oleh seorang perempuan dengan minyak wangi yang mahal (Matius 26:6-13; Markus 14:3-9). Yesus memuji janda miskin tersebut meskipun dia hanya mempersembahkan dua koin yang kecil, karena “janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya” (Markus 12:44). Kepada perempuan yang lain, Dia berkata, “Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku” (Markus 14:6). Yesus menghargai persembahan janda miskin tersebut sama seperti Dia menghargai tindakan perempuan yang mengurapi-Nya dengan minyak wangi yang mahal.

Kedua cerita ini mengajarkanku bahwa Tuhan berkenan kapan pun aku memberikan segala yang kumiliki kepada-Nya, tidak peduli seberapa banyak jumlahnya, dan Dia melihat ini sebagai suatu perbuatan yang baik. Segala yang Dia minta daripadaku adalah untuk percaya kepada-Nya dan mengasihi-Nya dengan segenap hatiku dan mempersembahkan seluruh hidupku—kekuatanku dan pergumulanku—kepada-Nya.

Dalam perjalanan untuk percaya kepada Tuhan dengan segenap hatiku dan mengakui Dia dalam segala lakuku ini, aku tahu bahwa Dia akan meluruskan jalanku (Amsal 3:5-6). Meskipun aku tidak mempunyai pilihan akan seksualitasku, aku dapat memilih untuk menaati dan mengasihi Dia. Ketika aku melakukannya, aku tahu pilihan-pilihanku akan berkenan bagi Tuhan, dan akan membawaku untuk menyembah Dia dengan lebih sungguh, membuatku dapat menerima lebih banyak pemulihan, dan memampukanku untuk menolong orang lain dengan pergumulan yang sama.

Aku menantikan datangnya hari ketika aku akhirnya dapat bertatap muka dengan Dia yang aku kasihi. Dan aku ingin menjalani sebuah hidup yang diisi dengan pilihan-pilihan yang menyenangkan-Nya, sehingga ketika Tuhan melihatku, Dia akan berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia! (Matius 25:23) Kamu telah memberikan semua yang ada padamu (Markus 12:44). Kamu telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku (Markus 14:6).”

Segala usahaku takkan sia-sia bagi Dia yang layak menerima segala puji dan hormat.,,,,,,,,,,,,,

Related posts