santi & Novi : oral lesson

santi & Novi : oral lesson

Novi sedang melamun ketika kakaknya, Santi, datang berkunjung ke rumahnya. Sebenarnya rumah mereka berdua tidaklah berjauhan. Namun karena satu-dua hal belakangan ini mereka jarang bertemu.
“Duuuh, pengantin baru kok melamun sih?” Santi menggoda.
“Eh, Ka Santi. Tumben mampir nih?”
“Iya, jadi ga enak. Aku mau minta tolong.”
“Minta tolong? Untuk kakakku satu-satunya pasti aku tolong,” ujar Novi dengan wajah yang lebih ceria.
“Kamu ini bisa aja. Begini, Nov. Hari Senin depan aku harus pergi ke luar kota selama 3 hari. Biasa deh, tugas kantor. Jadi, kamu bisa bantu-bantu Tomy menjaga Kirani?”
“Hmmm… bagaimana yah? Aku jadi bingung…,” wajah Novi berkerut seperti sedang berpikir keras.
Melihat hal ini, Santi menjadi agak kecewa. Novi adalah satu-satunya keluarganya yang tinggal di Jakarta. Kedua orang tua mereka sudah meninggal sekitar 12 tahun yang lalu. Setelah kedua orang tua mereka meninggal, mereka diasuh oleh nenek mereka di Bandung. Mereka berdua sangat akrab. Bagaimana tidak, mereka harus saling bantu selama tinggal bersama neneknya. Namun sejak kecil Novi selalu bergantung kepada Santi. Baru belakangan ini, sejak berpacaran dengan Ferry dan akhirnya menikah dengannya, Novi mulai bisa sedikit demi sedikit melepaskan ketergantungannya kepada Santi. Dan kali ini, giliran Santi yang meminta bantuan kepada Novi dan kelihatannya ia harus mencari jalan keluar lain untuk masalahnya ini.
“Hahaha… Ka Santi polos yah? Tentu saja aku akan bantu,” tiba-tiba saja wajah Novi berubah menjadi ceria lagi.
“Iihh kamu ini. Awas yah, aku balas nanti,” kata Santi sambil mencubit lengan Novi. Lalu mereka berdua tertawa ringan.
Setelah memberi semua petunjuk yang diperlukan oleh Novi, Santi beranjak untuk pergi.
“Kamu ga kenapa-kenapa, kan, Nov?” Santi bertanya.
“Oh! Enggak, Ka Santi. Enggak apa-apa, kok. Toh, aku masih menganggur, jadi pasti bisa bantu kakak.”
“Bukan, bukan itu yang kumaksud. Kelihatannya kamu sedang ada masalah. Pikiranmu seperti sedang menerawang. Ada apa sih? Apakah masalah uang?” tanya Santi lagi.
“Tidak, Kak. Aku tidak apa-apa, kok,” Novi menjelaskan.
“Ah, kamu. Kamu itu sejak kecil aku yang urus, mana mungkin kamu bisa menyembunyikan perasaan kamu terhadapku. Aku ini kakakmu. Kakak satu-satunya. Masa sih kalau kamu ada masalah aku tidak akan bantu?”
“Sungguh, Kak. Aku tidak apa-apa.”
Santi merogoh tasnya mencari-cari sesuatu lalu berkata, “Ini aku titipkan kamu uang. Tidak seberapa jumlahnya. Aku tahu kamu lagi ada masalah. Tapi karena kamu ga mau bicara, aku cuma bisa bantu ini.” Santi menyodorkan amplop putih tebal berisi uang kepada Novi.
“Ini bukan masalah uang, Kak!” Novi menjawab setengah berseru. Lalu ia menutup mulutnya dengan tangannya, seakan telah mengucapkan hal yang salah.
“Nah…, lalu apa? Kalau bisa aku bantu, pasti aku bantu. Setidaknya kamu cerita dong kepadaku, Nov.”
“Anu…, ini masalah aku dengan Ferry…”
“Oala, masa pengantin baru sudah bermasalah? Eh… tunggu, jangan-jangan… masalah hubungan intim yah?” canda Santi.
Novi hanya tertunduk dan diam seribu bahasa. Wajahnya memerah karena malu. Santi yang tidak menyangka candaannya barusan ternyata benar. Pipi Santi menjadi panas dan mulutnya ternganga, tak bisa berkata apa-apa juga.
Akhirnya Santi memberanikan diri untuk bertanya lebih lanjut. “Kita ini sudah dewasa, Nov. Tidak usah malu. Jadi utarakan saja masalahmu. Barangkali aku bisa kasih jalan keluar.”
Semenit berlalu tanpa ada kata-kata yang keluar dari mulut Novi. Dan akhirnya Novi mengeluarkan suara. “Beberapa hari yang lalu, Ferry meminta aku untuk menghisap kemaluannya, Kak,” katanya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
“Lalu?” tanya Santi tidak sabar.
“Aku tidak tahu caranya. Lagipula aku jijik melakukannya. Akhirnya aku berbohong kepada Ferry bahwa aku sedang sariawan. Namun kelihatannya Ferry tahu kalau aku berbohong dan sejak hari itu ia bersikap dingin kepadaku, Kak.”
“Masa kamu tidak tahu caranya? Ya tinggal dimasukkan ke dalam mulut saja,” Santi menjelaskan.
“Aku sudah berpikir seperti itu juga. Tapi aku takut kalau-kalau aku salah melakukannya. Selain itu aku juga takut kalau-kalau aku menjadi mual di tengah jalan. Kalau aku berhenti tiba-tiba atau… kalau aku muntah bagaimana perasaan Ferry nantinya?”
“Hmmm…, kalau begitu sih yang harus kamu lakukan adalah latihan.”
“Latihan? Dengan memakai pisang atau mentimun? Aku sudah coba, Kak. Namun semuanya itu beda,” jawab Novi.
“Iya juga yah. Tapi kalau begitu…,” Santi terdiam tiba-tiba.
Lalu ia bangkit berdiri dan berjalan memutari sofa sambil menimbang-nimbang sesuatu di otaknya.
“Oke. Begini deh. Hari ini hari apa yah? Oh iya, hari ini kan hari Jumat, berarti kita masih ada waktu sebelum aku berangkat ke Surabaya Senin depan. Besok sekitar jam 10 malam aku akan jemput kamu. Oke?”
“Eh, kita mau kemana? Hei, aku tidak mau melakukannya dengan gigolo yah!” ujar Novi setengah bercanda.
“Tenang saja deh. Jangan bilang apa-apa dulu ke Ferry,” Santi menjelaskan.
* * *

Keesokan malamnya, sejak jam setengah sepuluh malam, Novi mulai cemas. “Apa yang sebenarnya direncanakan kakakku ini?” pikirnya terus menerus. Jam di dinding telah menunjukkan pukul sepuluh lewat 30 menit, namun belum ada tanda-tanda kedatangan Santi. Melihat gelagat aneh Novi, Ferry bertanya, “Kamu sedang menunggu siapa, Nov?”
“Eh, anu… Aku… umm…. Kak Santi…,” kaget ditanya seperti itu Novi gugup dan tidak bisa memberi jawaban.
“Ada apa sih?”
“Anu… Kak Santi… dia ada masalah…,” jawab Novi sekenanya. Bertepatan dengan itu, terdengar ketukan pintu depan.
“Oh untung saja, dia datang,” pikir Novi dengan lega.
Ferry membukakan pintu. Lalu Novi datang menyusul.
“Fer, aku pinjam Novi sebentar yah. Ada hal yang perlu aku diskusikan secara pribadi dengan dia. Boleh, kan?” Santi bertanya dengan wajah yang serius.
“Ummm… bo-boleh saja, tapi…,” Ferry menatap wajah Santi dengan bingung.
“Tenang, Fer. Kamu tidur saja. Nanti kalau sudah selesai, pasti aku akan mengantarkan Novi kembali ke mari,” kata Santi sambil memaksa masuk lalu menarik Novi keluar.
“Bye, Fer,” dengan keadaan bingung Novi berpamitan dengan suaminya sambil setengah berlari menuju ke mobil Santi.
“Kenapa tidak berdiskusi di sini saja?” Ferry bertanya kepada dirinya sendiri setelah ia melihat mobil Santi berbelok ke jalan raya.
* * *

“Hahaha… kamu lihat tidak tampang Ferry?”
“Iya, tampangnya seperti orang bodoh,” kata Novi.
Novi tidak dapat menahan rasa ingin tahunya lagi dan akhirnya bertanya, “Kita pergi kemana, Kak?”
“Sebentar lagi kamu juga pasti tahu.”
Dua menit setelah itu, Santi membelokkan mobilnya ke jalan menuju rumahnya. Novi tambah bingung, “Ini kan…?”
Belum sempat menjawab, Santi telah memarkirkan mobilnya di pekarangan rumahnya. “Kamu tunggu di sini dulu, Nov,” kata Santi sambil meraih ke kursi belakang dan mengambil beberapa kantong belanjaan.
Kurang lebih Novi menunggu selama sepuluh menit sebelum akhirnya pintu rumah Santi terbuka. Ia melihat Santi telah berganti pakaian. Santi mengenakan daster seperti yang Novi kenakan saat itu. Santi berjalan tergopoh-gopoh menghampirinya. Setengah berbisik, ia berkata, “Ayo, masuk. Cepat tapi jangan bersuara, yah.”
Novi hanya dapat mengikuti permainan Santi. Ia mengangkat sedikit kain daster yang ia kenakan agar tidak kotor mengenai lantai lalu melangkah dengan sigap masuk ke dalam rumah mengikuti Santi dari belakang.
Santi berpaling ke arah Novi lalu meletakkan telunjuk di bibirnya. Terdengar sayup-sayup suara musik mengalun lembut dari dalam kamar. Santi menggandeng tangan Novi lalu masuk ke dalam kamarnya bersama-sama.
Betapa terkejutnya Novi melihat Tomy, kakak iparnya, duduk di kursi dengan keadaan terikat kaki dan tangannya. Pada kepalanya terikat kain berwarna hitam yang menutupi kedua matanya. Santi langsung menahan mulut Novi dengan tangannya agar ia tidak berteriak. Dengan nada genit Santi berkata, “Aku sudah siap, Tom. Kamu sudah siap, belum?”
“Wah aku sih sudah menunggu dari tadi, San,” jawab Tomy tanpa mengetahui keberadaan Novi.
Santi menarik lengan Novi secara paksa sambil berjalan menghampiri Tomy. “Baik. Karena kamu tidak bisa bergerak, jadi kamu tidak bisa berbuat banyak selain menikmati saja. Benar, kan Tom?” Santi berkata sambil mengisyaratkan Novi untuk duduk tak jauh darinya agar dapat melihat apa yang ia kerjakan.
“Oke, tapi nanti kamu akan melepaskan semua ikatan ini, kan? Kamu ga akan membiarkan aku tidur dalam posisi seperti ini, kan?”
“Hihihi… lihat saja nanti,” kata Santi sambil perlahan-lahan membuka celana suaminya. Ia menurunkan celana itu sampai ke pergelangan kaki Tomy. Santi berdiri menghampiri Novi yang tidak berani melihat kakak iparnya dalam kondisi seperti itu.
Lalu ia berbisik di telinga Novi, “Nov, ini kesempatan kamu untuk memperhatikan apa yang akan aku lakukan terhadap Tomy. Jangan malu-malu, anggap saja seperti menonton film porno. Hanya saja bedanya kali ini kamu bisa melihatnya dari dekat dan secara langsung. Jadi jangan sia-siakan kesempatan ini. Karena kesempatan seperti ini tidak akan terulang lagi. Oke?”
Santi kembali berjongkok di antara kedua paha Tomy dan mulai mengelus-elus kemaluan suaminya yang masih tertutup celana dalam. Setelah 4-5 belaian, kemaluan Tomy mulai membesar. Novi memberanikan dirinya menyaksikan ‘pertunjukan’ yang disuguhkan oleh kakaknya.
Setelah merasa penis suaminya sudah cukup besar, Santi berhenti mengelus-elus. Dengan gerakan perlahan, ia meraih lingkar celana dalam suaminya. Sebelum menariknya ke bawah, dengan pandangan nakal, ia menoleh ke arah adiknya yang tertegun menunggu apa yang akan terjadi berikutnya.
Seperti dalam gerakan otomatis, saat Santi mulai menurunkan celana dalamnya, Tomy mengangkat pantatnya sedikit agar celana dalamnya dapat lolos dengan mudah. Tiga detik kemudian, penis Tomy sudah bebas berdiri tegak di hadapan kedua wanita ini.
Santi kembali mengelus-elus batang kemaluan suaminya dengan lembut. Dengan gerakan naik… lalu turun…, terkadang dengan gerakan melingkar.
Setelah itu Santi berdiri lagi menghampiri Novi yang sejak tadi memperhatikan semua gerakan Santi dengan seksama. Beberapa kali ia harus berkonsentrasi agar perhatiannya tidak berpindah ke penis Tomy yang seakan kian membesar.
Santi berbisik di telinga Novi, “Sebelum memulai, ada baiknya kita menggodanya supaya baik dia maupun kita sebagai istri juga siap.”
Santi mulai berceloteh seperti memberi ceramah seks kepada adiknya. Padahal sehari-harinya, ia sendiri hampir tidak pernah mempraktekkan apa yang ia ajarkan kepada adiknya. “Lebih baik aku mengajarkan hal yang seharusnya dilakukan daripada main asal tubruk saja,” pikirnya dalam hati.
“Ayo sekarang kamu yang coba,” buat Novi bisikan itu bagaikan petir yang menggelegar di siang bolong.
“Ha?” tanpa sadar Novi mengeluarkan suara tanda tak percaya.
Serta merta Novi dan Santi menahan nafas dan menengok ke arah Tomy. Walau sebagian wajah Tomy tertutup kain hitam, namun mereka berdua dapat memastikan bahwa ia mendengar suara Novi tadi. Raut wajahnya terlihat bingung.
Tak kehabisan akal, Santi berpura-pura berdehem dan batuk. Lalu tanpa berpikir panjang, ia menarik lengan adiknya sampai hampir menyentuh penis suaminya. “Ayo cepat, sebelum aku berubah pikiran.”
Dengan sedikit gemetar, Novi menyentuh kepala penis Tomy dengan ujung jari tengahnya. Pandangan Novi melekat pada penis Tomy yang berdenyut-denyut di hadapannya. Selama hidupnya ia belum pernah melihat penis laki-laki sejelas ini. Bahkan saat bersama suaminya, ia selalu melakukan hubungan seks dalam keadaan gelap. Melihat penis Tomy yang begitu haus menanti belaian seorang wanita, membuat wajah dan telinganya menjadi merah.
Setelah menarik nafas panjang, Novi menempelkan ketiga ujung jari-jari telunjuk, tengah dan manisnya di kepala penis itu. Tomy terlonjak kaget, “Wow, apa tuh? Kok dingin-dingin?”
Santi bergerak memposisikan wajahnya di samping wajah Novi lalu berkata, “Ah, kamu mau tau aja deh. Kalau dikasih tahu, kan ,jadinya ga surprise lagi?”
Santi menarik tangan Novi lalu menggenggam jemari itu. “Tangannya dingin sekali,” pikir Santi. “Jangan terlalu tegang, nanti bisa-bisa ketahuan. Santai saja,” bisik Santi.
Setelah itu ia menggosok-gosokkan tangannya ke tangan Novi supaya menjadi lebih hangat. Santi memberi isyarat agar Novi melanjutkan lagi.
Jantung Novi berdegup dengan kencang. Tangannya masih gemetar karena gugup. Dengan satu gerakan yang mantap, akhirnya ia mulai membelai sepanjang batang kemaluan Tomy.
“Jangan terlalu cepat. Lebih lembut sedikit,” Santi memberi petunjuk.
Novi terus membelai dan mengelus. Lama kelamaan, Novi terlihat dapat menguasai teknik belaian ini dengan baik sampai akhirnya sebuah erangan keluar dari mulut Tomy yang terbuai oleh belaian Novi.
Santi terbelalak dan hampir tanpa suara berbisik pada dirinya sendiri, “Waaaaw…”
“Oke, kelihatannya kamu sudah menguasai teknik ini.” Novi melempar senyum dengan perasaan tak menentu kepada kakaknya. Entah apakah ia harus bangga atau malah malu. “Sekarang kamu kembali ke samping dan perhatikan aku lagi,” lanjut Santi.
Santi mendekatkan bibirnya ke batang kemaluan suaminya lalu menggesek-gesekkan bibirnya ke sepanjang penis itu secara perlahan dan lembut. Sesekali ia membuka mulutnya dan meniupkan hawa hangat melalui mulutnya. Tomy menggeliat-geliat mendapat perlakuan seperti ini.
Sekarang giliran Novi. Ia mulai dapat membiasakan diri. Kegugupan yang pada awalnya begitu jelas terlihat kini sedikit demi sedikit mulai hilang.
Novi mencoba mengikuti gerakan Santi pada penis Tomy. Bibirnya dikecupkan dengan lembut di kepala penis tersebut. Dengan lembut ia menggesekkan bibirnya ke sepanjang batang penis kakak iparnya itu. Turun lalu naik lagi. Begitu seterusnya. Sesekali Novi juga menghembuskan hawa hangat dari mulutnya. Tomy kembali menggeliat-geliat menahan gejolak birahi dalam dirinya. Perlahan-lahan Novi menutup kedua matanya sambil meneruskan sentuhan-sentuhan bibirnya pada penis itu. Lalu Novi mengelus-elus batang penis itu dengan pipinya. Pertama yang kiri kemudian berpindah dengan perlahan ke pipi yang kanan. Novi sudah terbawa suasana.
Melihat hal ini, Santi sedikit terkejut. Ia tidak terlalu terganggu dengan kelakuan adiknya itu. Namun yang mengganggu pikirannya adalah bahwa kelihatannya Tomy lebih terbuai oleh permainan Novi daripada sentuhan yang ia berikan.
Belum selesai pikirannya menerawang lebih jauh, Santi dikejutkan oleh Novi yang membuka besar-besar mulutnya yang mungil itu. Detik berikutnya kepala penis Tomy sudah dilahap masuk ke dalam mulut Novi. Dengan gerakan refleks, Santi menyenggol lengan Novi. Novi membuka matanya seperti baru terbangun dari lamunan. Novi mendapati Santi sedang menatapnya dengan pandangan tak percaya.
Langsung saja Novi bangkit berdiri dan berusaha menjelaskan apa yang baru terjadi. Santi juga tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Apakah ia harus marah atau malah bangga melihat keberhasilan adiknya mengatasi rasa takutnya, ia sama sekali bingung. Setelah menghela nafas, Santi tersenyum kepada adiknya. “Ga kenapa-kenapa, Nov. Aku hanya kaget saja melihat kamu langsung menelan kemaluan Tomy begitu saja. Ayo kita lanjutkan lagi,” bisik Santi.
Santi kembali berjongkok di antara paha Tomy dan membuka mulutnya. Sebelum melanjutkannya, Santi melirik ke arah Novi yang sedang memperhatikannya dengan seksama. Santi menjulurkan lidahnya lalu dengan lembut menjilat kepala penis tersebut. Setelah beberapa menit menjilatinya, Santi melanjutkan dengan menjilati buah pelir suaminya. Tomy menggeliat-geliat lagi. Novi tersenyum melihat respon yang diberikan Tomy atas perlakuan istrinya.
Kemudian Santi memasukkan penis Tomy ke dalam mulutnya. Pertama hanya bagian kepalanya. Dengan lembut kepala penis itu dikemutnya. Lalu ia mundur sejenak dan berbisik kepada Novi, “Kamu harus menggunakan lidah kamu pada waktu penis berada di dalam mulutmu. Mengerti? Kamu akan melihat bagaimana reaksi dia saat aku bermain-main dengan lidahku.”
Santi kembali mengulum penis Tomy. Dengan penis di dalam mulutnya, Santi menengok ke arah Novi seperti memberi isyarat bahwa pertunjukan akan segera dimulai. Detik berikutnya, Tomy mengerang sambil menarik kepalanya ke belakang dan membusungkan dadanya. Dan begitu pula detik-detik selanjutnya, Tomy terus menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan dan sesekali erangan terdengar keluar dari mulutnya.
Makin lama deru nafas Tomy semakin cepat. Begitu pula dengan nafas Santi. Keduanya seperti berpacu untuk meraup udara masuk ke dalam paru-paru mereka. Santi berhenti dan berkata dengan suara yang mendesah, “Aku akan buka ikatan tanganmu. Tapi kamu tidak boleh membuka penutup mata kamu. Oke?”
Tomy tidak dapat mengeluarkan suara dan hanya mengangguk dengan cepat. Santi segera melepaskan ikatan pada kedua tangan Tomy, lalu melanjutkan dengan mengulum penis suaminya lagi. Tomy terlihat lebih rileks dengan kedua tangannya dapat diletakkan di mana saja ia inginkan. Dan Tomy meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya.
Lima menit berlalu begitu cepat bagi Novi yang tanpa sedetikpun melepaskan pandangannya dari mulut Santi yang bertubi-tubi melahap batang penis itu. Dengan tangan kanannya, Tomy membelai dengan lembut rambut Santi.
Santi menghentikan hisapan pada penis Tomy dan berkata kepadanya, “Sebentar yah, Tom. Jangan bergerak sama sekali.”
Lalu Santi menyuruh Novi untuk menggantikan posisinya lagi. “Oke, sekarang giliran kamu untuk memperlihatkan apa yang sudah kamu pelajari,” terdengar ada sedikit nada mengejek dalam kalimat itu.
Tanpa berpikir macam-macam, Novi berlutut di antara paha Tomy dan memulai serangannya. Sama seperti Santi, Novi juga memulai dengan menjilati kepala penis Tomy. Novi sudah semakin menguasai permainan ini. Ia terlihat lebih berani dalam melakukan manuver-manuver yang sensual, seakan ingin memperlihatkan kemampuannya kepada Santi dan kepada Tomy (walau ia tidak dapat melihatnya).
Setelah menjilati penisnya, Novi berpindah ke buah zakar Tomy. Dua menit setelah itu, Novi menutup matanya dan menarik nafas panjang. Lalu dengan mata terpejam, ia membuka mulutnya dan memasukkan kepala penis itu ke dalam mulutnya. Dikemut dan dikulumnya kepala penis itu. Tak lama setelah itu, tiba-tiba saja Tomy terlonjak dan mengerang cukup keras. Kedua tangannya ditekankan ke bagian belakang kepala Novi. Santi tahu apa yang baru saja terjadi. Selama ini hanya ia yang tahu titik sensitif Tomy, namun malam ini rupanya Novi tanpa sengaja menjelajahi daerah emas itu.
“Ooohhh…,” lirih Tomy setelah Novi terdiam karena kepalanya ditekan oleh kedua tangan Tomy. Tangan Tomy mulai membelai-belai rambut Novi. Dan sangat kebetulan Novi dan Santi mempunyai panjang rambut yang sama sehingga Tomy sama sekali tidak dapat membedakan antara keduanya. Novi kembali mengulum penis Tomy sambil memain-mainkan lidahnya.
Tak lama kemudian, Tomy kembali mengejang dengan menarik kepalanya ke belakang dan membusungkan dadanya. Ini kedua kalinya tanpa sengaja Novi mengenai titik sensitif Tomy. Novi terdiam sejenak sebelum meneruskan permainannya. Novi belajar dengan cepat lalu dengan lembut ia menyapu lagi titik sensitif Tomy dengan lidahnya. Tomy kembali mengejang sambil mengerang.
Santi takjub melihat permainan Novi yang tergolong hebat untuk kategori pemula. Setidaknya ia sudah dapat mengatasi rasa jijiknya terhadap penis.
Dalam lamunannya Santi kembali masuk ke dunia nyata setelah mendengar desahan yang keluar dari mulut Novi. Lagi-lagi ia dikejutkan dengan pemandangan di depannya. Kedua tangan Tomy sudah masuk ke dalam daster Novi. Tangan-tangan nakal itu sedang berusaha menyelinap masuk ke dalam BH yang dikenakan Novi. Novi berusaha menghindari tangan Tomy namun ia masih terus menjilati titik sensitifnya.
Santi bergerak maju untuk menarik tubuh adiknya agar tangan suaminya tidak mencapai payudara Novi. Belum lagi sempat meraih pundak Novi, Santi melihat tubuh suaminya menggelinjang yang diikuti dengan teriakan yang cukup keras. Setelah itu Santi mendengar suara orang tersedak, “BRMPHZPHH!”
“Ohoug! Ohoeg!!” Novi terbatuk. Novi mengatupkan mulutnya dengan cairan sperma meleleh dari kedua ujung bibirnya dan sebagian dari hidungnya. Novi berusaha menadahkan tangannya di bawah dagunya agar lelehan sperma Tomy tidak terjatuh di lantai kamar sementara ia tidak menelan cairan sperma yang masih di mulutnya.
Santi hanya dapat melotot melihat semua ini. Tidak pernah suaminya mencapai klimaks secepat ini. Namun ia harus segera bertindak karena permainan sudah selesai. Ia berpikir cepat lalu menarik adiknya dan menyuruhnya membersihkan dirinya di WC tamu di luar.
Baru saja Novi melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamar, Santi teringat akan sesuatu dan kembali menarik tangan Novi. “Cepat! Kasih kepadaku! Cepat!” bisik Santi tak sabar.
Melihat Novi yang tidak mengerti apa yang ia katakan, Santi menunjuk-nunjuk ke arah mulut Novi, “Itu yang di mulutmu! Cepat!”
Novi mulai mengerti maksud dan tujuan Santi yang meminta sperma Tomy dari mulutnya. Namun Novi malah semakin gugup dan bingung karena tidak tahu harus berbuat apa.
Tanpa membuang waktu, Santi langsung menarik tubuh Novi lalu mengatupkan mulutnya ke mulut Novi. Novi secara refleks malah menutup rapat bibirnya. Santi akhirnya berhasil membuka mulut Novi setelah menggunakan lidahnya menyeruak masuk ke antara bibir mungil itu. Santi mulai menyedot cairan sperma suaminya dari mulut adiknya. Dengan bantuan lidah mereka berdua yang aktif meliuk-liuk untuk mentransfer lelehan sperma Tomy, proses itu berlangsung cukup cepat.
Akhirnya Santi melepaskan mulutnya dari mulut Novi. Novi masih terbelalak memandangi Santi yang baru saja ‘menciumnya’.
Santi berdiri di hadapannya dengan nafas tersengal dan puting susu yang terlihat menonjol dari balik dasternya. Mereka berdua saling bertatapan. “Apa yang baru aku lakukan?!” pikir Santi dalam hati.
“San, kamu kemana?” terdengar suara Tomy memanggil dengan pelan.
Santi langsung berbalik dan sengaja melelehkan cairan sperma yang diperoleh sedapatnya dari mulut Novi keluar dari kedua sisi mulutnya lalu duduk di pangkuan Tomy.
“Uhuk! Uhuk! Aduh, Tom! *annya kenceng banget sih! Sampai tersedak nih!” Santi bersandiwara.
Santi menengok sebentar untuk melihat apakah Novi sudah keluar. Setelah memastikan hanya mereka berdua di dalam kamar itu, Santi membuka penutup mata Tomy.
“Bagaimana, Tom?”
Tomy menatap mata Santi dalam-dalam sejenak lalu tersenyum. “Luar biasa, San!” Tomy memeluk tubuh Santi erat-erat dan Santi juga balas memeluknya. Sambil mengelus-elus punggung Santi ia berkata, “Terima kasih, ya, San.”
“Ah pakai acara berterima kasih segala. Sudah hakikatnya seorang istri melayani suami, iya kan?”
Tomy hanya mengangguk.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Email This
BlogThis!
Share to Twitter
Share to Facebook
Share to Pinterest

Related posts