Air Susu Dibalas Dengan Air Mani

 

CERITA SEX GAY,,,,,,,,,

Laju sepeda motor yang dikemudikan Pak Irwan semakin cepat dan menyalip mobil angkutan di depan kami. Aku hanya diam, duduk dengan tenang di belakang boncengan, sesekali menjawab pertanyaan laki-laki tersebut atau memintanya untuk mengulanginya, karena suara bising kenderaan di sepanjang jalan membuat suara Pak Irwan tidak begitu jelas terdengar.

Memang hari ini lalu lintas begitu padat, tidak biasanya. Kecepatan sepeda Pak Irwan sedikit mulai stabil, tanganku yang sejak tadi terus merangkul tubuhnya yang besar, sedikit nakal menggoda laki-laki tersebut, dan memukul tanganku saat tanganku yang nakal meremas kontolnya.

“Jangan main-main” ucapnya sambil tertawa.
“Sudah tak tahan Pak” bisikku dan Pak Irwan tertawa lagi.

Tanganku mengelus-elus dadanya yang dibalut oleh jeket tersebut, badannya dan punggungnya tak lepas dari elusan tanganku. Laki-laki tersebut tertawa dengan kekonyolan yang aku buat padanya, yang pasti dia sangat menyukainya.

Cukup lama aku mengenal Pak Irwan. Laki-laki yang sangat baik dan dermawan. Karena beliaulah aku dapat meneruskan sekolah ke Lanjutan Pertama. Laki-laki tersebut membiayai sekolahku dari kelas 4 SD sampai sekarang. Dan bukan itu saja ketiga adikku juga. Laki-laki tersebut sangat budiman, aku banyak berhutang budi padanya. Inang tak bisa menahan harunya saat Pak Irwan mengulurkan bantuan pada keluargaku dan memberikan modal kepada Inang untuk membuka warung kecil-kecilan di rumah.

Sejak meninggalnya Amang, kehidupan kami sangat memprihatinkan. Inang harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keempat anaknya. Sebagai anak laki-laki yang paling besar, aku sedikitnya terpanggil untuk membantu meringankan beban Inang, walau usiaku masih sangat-sangat muda untuk bekerja. Umurku 11 tahun dan sudah setahun yang lalu sudah meninggalkan bangku sekolah karena faktor biaya.

Dari hasil barang-barang bekas yang aku dapatkan, sedikitnya membantu Inang untuk memenuhi kebutuhan dasar kami. Dan seperti biasa aku berkeliling mencari barang-barang bekas dari tempat-tempat sampah orang kaya dengan karung goni yang selalu setia di atas pundakku, sementara sebuah gancu mengaduk-aduk tempat-tempat sampah tersebut, mencari barang bekas yang laku untuk dijual.

Setelah mengambil beberapa botol bekas yang berada di dalam bak sampah dan memasukkannya ke dalam karung goni, mataku yang begitu awas dengan barang-barang bekas melihat ember besar yang terletak begitu saja dalam posisi terbalik, kelihatan pecah pada sisi pantatnya.

Dengan sangat hati-hati, mengecek keadaan sekeliling dan merasa aman aku rasa bahwa tidak akan ada yang melihat akan aksi yang akan aku lakukan nantinya dan ditambah dengan dorongan oleh bisikan-bisikan nafsu untuk mengambil barang tersebut, aku langsung membuka kunci grendel pagar rumah tersebut dan memasukinya. Begitu beraninya diriku mengambil ember tersebut dan memasukannya ke dalam karung goni. Keberanianku langsung menciut tatkala mendengar suara keras membentakku dari arah belakang.

“He! Berani sekali kau mencuri di siang bolong begini”.

Tubuhku langsung lemas dan sedikit gemetar, berbalik melihat laki-laki di belakangku yang memandangku dengan tidak bersahabat, melototkan matanya.

“Maaf, Bang” ucapku dengan sura terbata-bata.
“Aku pikir emer ini tidak dipakai lagi” dengan suara gagap ketakutan.
“Letakkan lagi di tempatnya semula, kalau tidak saya panggil polisi”
“Maaf, Bang, jangan.. Jangan panggil polisi Bang” ucapku lagi memohon dan hampir menangis dan meletakkan ember bekas tersebut ke tempatnya semula.
“Sini kau!” bentak laki-laki tersebut dan saat aku mendekatinya, laki-laki tersebut langsung menarik kupingku, menjewernya dengan kuat.
“Kecil-kecil sudah jadi maling, besarnya mau jadi apa, ah?”
“Ampun Bang, aku pikir ember itu tidak dipakai lagi, aku baru kali ini melakukannya”.
“Sudah mencuri, bohong lagi” bentak laki-laki tersebut dan semakin kuat tangannya menjewer kupingku.
“Ampun Bang, ampun” ucapku memohon menahan sakit sehingga aku menangis.
“Kurang ajar, apa tidak pernah diajarkan orang taua kau, ah”

Aku hanya diam menunduk, laki-laki tersebut melepaskan tangannya pada kupingku dan memeriksa karung goniku.

“Apa kau tidak sekolah, ah” bentak laki-laki itu lagi dan aku mengangguk menjawabnya.
“Malas, ah?, mau jadi apa kau ini, sudah tidak sekolah, maling dan sudah besarnya mau jadi rampok yah?”
“Tidak Bang” jawabku.
“Lalu apa?”
“Inang tidak punya uang untuk menyekolahkan kami”

Laki-laki tersebut menatapku tajam, menyimak perkataanku, memastikan apa aku berbohong atau berkata benar padanya. Perasaan lega saat aku di suruh pergi juga akhirnya dan memenuhi janjinya untuk tidak akan menampakkan mulalu di sekitar rumahnya lagi. Berbagai sumpah serapah aku ucapkan dengan pelan pada laki-laki tersebut sambil meninggalkan pekarangan belakang rumahnya.

Sebulan kemudian tanpa sengaja aku bertemu dengan laki-laki galak tersebut dan sedikit terkejut saat laki-laki tersebut mengajakku ke rumahnya dan memberikan ember yang pernah aku incar beserta barang-barang bekas lainnya. Mimpi apa aku semalam, begitu banyak barang-barang bekas yang aku dapatkan hari ini, gumamku.

“Satu karung saja kau bawa dulu, yang satu tinggalkan dulu, nanti kau jeput”

Aku mengikuti saran laki-laki tersebut. Dan hari-hari berikutnya, laki-laki tersebut memberikan barang-barang bekas yang tidak dipakainya lagi kepadaku. Dugaanku ternyata salah, laki-laki tersebut ternyata sangat baik dan selalu menasehatiku. Aku jadi malu mengingat kejadian pertama kali itu dan beberapa kali meminta maaf padanya atas kekeliruanku. Karena ember bocor aku jadi berniat mencuri, karena ember bocor aku jadi malu dan karena ember bocor itu juga aku mengenal Pak Irwan.

Suatu hari, Pak Irwan melihat sendir keadaan keluargaku.

“Hanya rumah berdinding tepas inilah peninggalan Amang anak-anak” ucap Inang.
“Ido sangat membantu saya, penghasilannya dari barang-barang bekas itu bisa menambah untuk membeli beras dan lainnya, sementara sya bekerja di pasar jadi kuli angkat barang atau membantu pedagang menjual barangnya kalau dminta”.

Singkat cerita, aku beserta adikku diangkat Pak Irwan sebagai anak angkatnya, dan aku tidak perlu mencari barang-barang bekas lagi.

“Kau harus sekolah dan juga Adik-Adik mu, sekolah yang rajin biar pintar dan suatu saat kalau sudah kerja kan bisa bantu Inang” pesan Pak Irwan.

Walau aku bukanlah tergolong anak yang pintar, namun aku selalu menurut, mengikuti nasehat Bapak angkatku itu, dan juga Bapak angkat bagi ke tiga adikku, tapi bagimana dengan Inang? Apa Pak Irwan mengangkatnya sebagai anak? Padahal Inang jauh lebih tua dari Pak Irwan, atau Ibu angkat?, ah.. Mana mungkin, tapi jika Pak Irwan mau mengawini Inang, pasti kami akan tinggal di rumahnya yang besar, kami jadi orang kaya, tapi mana mungkin, Pak Irwan khan sudah punya isteri yang cantik dan baik hati, yang pasti kalau Pak Irwan kawin dengan Inang ceritanya akan berubah pastinya yah.

Karena usiaku yang sudah 11 tahun, aku dimasukkan Pak Irwan ke kelas 4 SD, padahal kelas 3 pun aku belum tamat, tapi karena dia seorang guru dan banyak kenalan, akhirnya aku diterima di kelas 4 SD walau harus dalam masa percobaan terlebih dahulu. Kami hanya disuruh belajar dan belajar, semua kebutuhan kami di subsidi Pak Irwan. Laki-laki tersebut pun memberi modal kepada Inang untuk membuka warung kecil-kecilan di rumah, sehingga lebih membantu kami lagi.

Kata-kata yang mengandung makna berupa nasehat selalu disampaikan kepadaku sehingga memacuku untuk belajar lebih giat lagi agar cita-citaku tercapai dan akan menunjukkan kepadanya bahwa pertolongannya tidak sia-sia.

Setahun kemudian

Seperti biasa, sepulang sekolah aku mampir ke rumah Pak Irwan, masuk dari belakang rumah, seperti layaknya seperti rumahku sendiri, mencari keberadaan Pak Irwan, memberi kejutan kepadanya. Melihat laki-laki tersebut yang sedang duduk santai di sofa sambil menonton TV, akupun mendekatinya dengan perlahan.

“Kena” ucapku sambil menutup kedua matanya.

Pak Irwan menangkap kedua tanganku dan menariknya sehingga tubuhku terangkat ke depan, tangan laki-laki tersebut memegang celanaku, menariknya sehingga badanku terjatuh ke sofa. Pak Irwan ternyata tidak memberikan ampun kepadaku lagi, badanku digelitikinya.

“Akhh.. Ampun.. Ampun Pak” ucapku tertawa, kegelian, meliuk-liukkan badanku.

Keakraban begitu memang sering kami lakukan. Pak Irwan seperti Bapak kandungku, selayaknya keceriaan antara Bapak dan anak, dan hanya dengan Pak Irwan baru aku dapatkan. Laki-laki tersebut terus menggelitiki badanku, tidak menghiraukan aku yang memohon meminta ampun untuk menghentikan permainannya, aku sampai mengeluarkan air mata karena bahagia.

Laki-laki tersebut tersenyum, menghentikan permainannya, menatapku sejenak dan dengan tiba-tiba tangannya langsung mencaplok kontolku, meremas-remasnya.

“Geli.. Geli.. Pak..” ucapku lagi sambil tertawa.

Pak Irwan menarik tubuhku ke depan, meletakkan kepalaku di bantal kursi yang berada di bawah pusarnya dan kembali tangannya menjangkau kontolku, meremas-remasnya.

“Akhh.. Bapak gete (genit)” ucapku.

Laki-laki tersebut hanya tersenyum dan terus meremas-remas kontolku yang berada di balik celana. Mendengar sura desahan-desahan, mataku tertuju ke depan TV dan melihat permainan asyik laki-laki dan perempuan di atas ranjang, dan dalam keadaan telanjang bulat.

Bapak angkatku ternyata sedang menonton film porno dan usiaku yang baru 12 tahun, belum faham betul permainan tersebut. Aku menjadi tertarik dengan tontonan di TV tersebut. Pak Irwan tersenyum melihatku yang begitu serius menonton adegan ngentot.

“Seius sekali kau” ucap Pak Irwan memegang daguku.

Aku tersenyum, tersipu malu dan saat itu pula Bapak angkatku mengangkat bantal kursi dari selangkangannya, kontolnya naik ke atas, tegang dengan bulu-bulu yang lebat dan ikal. Pak Irwan tersenyum menatapku, aku baru sadar, ternyata Bapak angkatku telanjang bulat.

“Bapak, tidak malu” ucapku mengejeknya sambil tersenyum.
“Kenapa malu?, khan hanya ada anak Bapak di sini” ucapnya sambil tertawa, tangannya merangkul pundakku, kepalanya dirapatkan ke kepalaku dan Pak Irwan mencium pipiku.
“Akhh, bapah tambah gete saja” ucapku dan menghapus pipiku yang habis diciumnya.

Pak Irwan tertawa lagi, meraih tanganku dan meletakkan ke kontolnya.

“Pegang kontol Bapak, kontol Arido Bapak pegang juga” bisiknya

Tanganku merasakan batang keras tersebut, sementara Pak Irwan meremas-remas kontolku juga, merasa tak puas, laki-laki tersebut membuka retsleting celanaku dan mengeluarkan batang kontolku yang lemas.

“Wah, kontolmu ternyata panjang juga” ucapnya melihat kontolku yang menjulur dari lubang retsleting.

Tangan Pak Irwan menarik-narik ujung kontolku yang terkatup, kuncup. Aku termasuk orang yang tidak sunat. Gerakkan-gerakkan tangan Bapak angkatku yang meremas-remas dan mengocok-ngocok batang kontolku, membuat kontolku semakin bereaksi, hidup, membesar pada diameter batangnya dan semakin panjang dari bentuk semula dan kulit pada ujungnya melebar, seiring kepala kontolku yang membengkak, membesar.

“Wah, kalau Bapak tahu lebih dulu kau punya batang kontol yang besar dan panjang, Bapak langsung menggarap Ido” ucapnya sambil tersenyum.

Pak Irwan mencium pipiku lagi sebelum pergi meninggalkanku dan kembali tak lama kemudian dengan membawa boneka perempuan telanjang bulat tinggi dan ramping. Laki-laki tersebut tersenyum dan kembali duduk di sampingku.

“Bapak kenalkan dengan Madonna” ucapnya padaku memperkenalkan boneka tersebut dan memberitahukan setiap organ tubuh boneka tersebut.

Aku menolak saat Pak Irwan menyuruh untuk menghisap-isap puting payudara boneka tersebut, Bapak angkatku memberi contoh, dia langsung mengisap-isap puting payudara boneka tersebut, menjilatinya dan menarik-narik puting payudara boneka tersebut bergantian. Aku tertawa melihatnya. Bapak angkatku seperti bayi yang sedang menyusu pada boneka tersebut.

Beberapa lama kemudian, Pak Irwan memasukkan kontolnya ke dalam mulut boneka karet tersebut yang menganga lebar, tersenyum melihatku, tangannya terus menekan-nekan kepala boneka karet tersebut.

“Madonna mau merasakan kontol Arido, dia mau mengisap-isap kontol Arido” ucap Bapak Angkatku.
“Enak Pak?” tanyaku.
“Geli dan enak” jawab Pak Irwan sambil tersenyum dan membuka baju dan celana seragamku.

Aku merasakan kegelian saat mulut boneka tersebut keluar masuk memakan batang kontolku.

“Geli.. Geli.. Pak” ucapku.
Pak Irwan tersenyum sambil terus menggerak-gerakan kepala boneka tersebut.
“Pak.. Gelii” ucapku lagi.
“Akhh..” desahku pelan dan pendek.
Bapak angkatku mengangkat boneka karet tersebut, “Wah.. Air manimu, tertinggal di dalam mulut Madonna” ucapnya menunjukkan cairan kental seperti ludah namun lebih kental lagi.
“Anak Bapak, kecil-kecil sudah menghasilkan” ucap Pak Irwan lagi, menambah kebingunganku lagi. Laki-laki tersebut memelukku sambil mengelus-elus rambutku.

Pak Irwan mengajakku ke kamar mandi, mendudukkanku di sisi bak, sementara Bapak angkatku tersebut jongkok, tangannya meraih kontolku dan.. Dan.. Bapak angkatku tersebut menelan batang kontolku, menarik-nariknya dengan mulutnya, dengan gerakan cepat sehingga kontolku bertambah besar kembali dan memanjang. Pak Irwan mengocok-ngocok batang kontolku, merapatkan kedua bibirnya sehingga batang kontolku terjepit, hingga batang kontolku tenggelam samapai pangkalnya. Tanpa pengetahuan dan tidak tahuanku, aku membiarkan Bapak angkatku melakukannya. Kocokan-kocokan mulutnya pada batang kontolku semakin enak saja, geli rasanya.

Pak Irwan mengeluarkan batang kontolku dari mulutnya, dan lidahnya menari-nari, menjilati seluruh batang kontolku dari ujung, kepala kontolku sampai pangkalnya dan yang lebih enak lagi, saat Bapak angkatku menjilati biji kontolku, mengulumnya satu persatu sambil menarik-nariknya dengan mulutnya dan kedua biji kontolku ditelannya sekaligus dan menarik-nariknya untuk beberapa lama laki-laki tersebut melakukannya dan kemudian menelan batang kontolku berikut kedua biji kontolku secara bersamaan, kembali menariknya dengan pelan.

Akkhh.. Geli dan enak aku rasakan, hangatt..

Untuk beberapa lama Bapak angkatku melakukannya, mengisap-isap kontolku dan terus.. Terus dia lakukan hingga hal yang sama aku dapatkan seperti saat boneka karet tersebut menelan kontolku, aku merasakan gelii.. Gelii yang mengenakkan dan Bapak angkatku mengeluarkan batang kontolku dari mulutnya dan menunjukkan cairan kental dalam mulutnya. Cairan mani kata Bapakku dan langsung ditelannya.

Permainan berikutnya aku dapatkan, dengan waktu yang di atur oleh Bapak angkatku sendiri, sementara aku merasa ketagihan dengan permainan tersebut.

Hari yang telah ditentukan, rasanya aku ingin pelajaran sekolah cepat selesai, supaya aku dapat menemui Pak Irwan dan memintanya untuk mengajarkan permainan berikutnya. Seperti yang sudah di jadwalkan, kembali aku merasakan permaianan Madonna dengan asuhan Bapak angkatku, aku memperkosa lubang kemaluannya, akhh.. Sangat enak.. Enakk.. Enakk, Pak Irwan menyuruhku mendesah jika aku merasakan nikmat.. Dan aku melakukannya, sementara aku mengentot Madonna, Bapak angkatku menciumiku, mencumbu, bibirku, melumat bibirku. Dengan tekhnik-teknik dan ajarannya aku pun mulai membalas setiap cumbuannya. Hangat, nikmat aku rasakan saat bibir Bapak angkatku menyentuh bibirku dan melumat mulutku. Setelah selesai dengan Madonna, kembali Bapak angkatku mengambil alih posisinya, seperti biasa menelan batang kontolku, mengocok-ngocoknya dengan mulutnya, dan kembali air maniku muncrat di dalam mulutnya, dan ditelan langsung oleh Bapak angkatku tersebut.

Malam itu, Pak Irwan menyuruhku untuk ke rumahnya dan saat yang aku nantikan akhirnya tiba, kebetulan satu minggu itu aku tidak berjumpa dengannya, Pak Irwan mengantar istrinya pulang karena ada urusan keluarga katanya. Kami akan melakukannya malam itu sepuasnya, yah sepuasnya. Aku juga sudah sangat merindukannya terutama kerinduan mulutnya yang akan mengocok-ngocok kontolku yang membuatku kegelian, keenakan, kenikmatan, hingga tubuhku mengejang seiring dengan air maniku yang kental muncrat ke dalam mulutnya.

Pak Irwan langsung mengajakku masuk dan tanpa basa-basi lagi aku menelanjangi pakaianku, sementara Pak Irwan yang sudah bertelanjang dada dan hanya memakai sarung saja saat itu, langsung membuka sarungnya dan Bapak angkatku sudah tidak memakai apa-apa lagi. Tubuhnya yang bulat, padat berisi tanpa dibalut sehelai benangpun. Pak Irwan menarik tanganku dan kami berbaring di atas air bad yang sudah terbentang di depan TV. Bpak angkatku mengusap seluruh badanku dengan baby oil, mengocok-ngocok kontolku dengan minyak tersebut hingga kontolku bertambah besar dan panjang, berdiri tegak 90 derajat.

“Madonnanya mana Pak?” tanyaku.
“Kau tidak butuh lagi” jawab Bapak angkatku sambil tersenyum.

Bapak angkatku membaringkan badannya ke air bad, terlungkup dan menyuruhku untuk mengoleskan Baby oil ke punggungnya, ke pantatnya, kedua paha, betis dan kakinya, kemudian laki-laki tersebut menumpahkan sisa baby oil pada belahan pantatnya, meraba-raba lubang pantatnya, hingga terbuka lebar, dan aku pun menaiki tubuhnya sesuai permintaannya, keadaan licin tubuhnya membuat tubuhku meliuk-liuk di atas punggungnya.

“Enak Pak, enak sekali” ucapku memberi komentar, Pak Irwan tersenyum, dan memintaku untuk memasukkan kontolku ke dalam lubang pantatnya. Tanpa banyak tanya lagi aku melakukkannya dan menekan pantatku hingga batang kontolku amblas di dalam lubang pantatnya.

“Aakkhh..” desahku, betul-betul enak.. Nikmat.. Enakk.. Gelii..

Aku mulai menggerakkan pantatku perlahan, namun dasar nafsuku yang besar namun tenaga yang kurang, aku cepat mencapai puncak orgasme..

“Yah, istirahat dulu” saran Bapak dan akan aku lanjutkan kembali.

Aku tidak ingin berlama-lama beristirahat dan mengajak Bapak angkatku kembali untuk menyodomi lubang pantatnya dan aku berhasil melakukannya beberapa kali, sampai Bapak angkatku khawatir dengan fisikku yang tidak akan mampu lagi untuk melanjutkan permainan.

“Jangan dipaksakan, kita masih banyak waktu” ucapnya.

Aku yang sudah merasakan enak, geli dengan permainan yang barusan aku lakukan, meminta Bapak kembali untuk meyodomi lubang pantatnya dan Bapak angkatku tersebut kembali melayaniku.

“Permainan ini, betul-betul enak, gelii, gelii, Pak” ucapku lagi.

Bapak angkatku hanya tersenyum. Dan hari-hari berikutnya aku meminta Bapak untuk menyodominya, memuaskan nafsuku yang sangat besar, dan Bapak dengan setia melayaniku, kami saling bercumbu, berciuman, memacu nafsu kami yang tak habis-habisnya. Aku menyukai Bapak angkatku, sama halnya dengan beliau lebih menyukaiku daripada istrinya, dia lebih terpuaskan dengan laki-laki muda dengan kontol yang besar dan panjang.

Permainan kami terus berlanjut hingga sekarang, sepertinya terjalin perasaan cinta di antara kami, rasa sayang dan saling menyukai bukan antara anak dan Bapak lagi, tetapi mungkin seperti kekasih, kekasih sejenis, tidak ada sang istri. Adakalanya Bapak bertindak sebagai istri atau sebaliknya dengan diriku sendiri, kami saling memuaskan, memacu gairah kami yang lagi panas, apalagi aku mulai tumbuh sebagai laki-laki remaja, dengan perubahan diriku yang nyata, suara, tubuhku, dan organ-organ tubuhku yang lainnya.

Kontolku semakin besar dan dengan panjangnya bertambah beberapa senti, dengan bulu-bulu yang tumbuh subur di sekita kontolku dan selalu di cukur Bapak angkatku, sehingga botak. Dia sangat menyukainya. Apa yang dia sukai otomatis aku menyukainya, aku memberikan semuanya untuk kesenangannya karena dia begitu banyak menolongku dan keluargaku. Atau apa karena aku menyukai laki-laki tersebut sejak awal, atau mungkin karena aku mencintainyakah?

Akhh, aku harap untuk selamanyaa.. ,,,,,,,,,,,,,,,,,,

E N D

Related posts